|
Hitam-Putih Pemutih Kulit
Beauty Tue, 08 Oct 2002 11:05:00 WIB
Menurut
penelitian, kulit berwarna gelap relatif lebih awet muda dan tak mudah
terkena kanker kulit. Tapi, produk dan teknik pemutihan kulit makin laris
saja. Ada apa di balik teknik dan produk pemutih kulit? Apakah semuanya aman?
Mempunyai warna kulit yang terang (baca: putih) tampaknya telah menjadi
obsesi sebagian besar wanita Indonesia. Terbukti dengan semakin banyaknya
produk-produk pemutih kulit yang mengiming-imingi konsumen dengan warna kulit
yang lebih putih setelah pemakaian dalam jangka waktu tertentu. Benarkah
produk pemutih kulit ini efektif? Dan yang lebih penting, apakah produk ini
aman bagi kulit?
Makin putih, makin cantik?
Kulit manusia terutama ‘diwarnai’ oleh melanin, pigmen berwarna gelap yang
diproduksi dalam sel melanosit. Perbedaan warna kulit pada ras-ras manusia
disebabkan perbedaan ukuran dan kemampuan produksi melanosit. Semakin gelap
kulit, berarti produksi melaninnya lebih banyak. Kabar baiknya, kulit yang
kaya melanin relatif lebih tahan terhadap proses penuaan dan kanker kulit.
Warna kulit kebanyakan penduduk Indonesia adalah cokelat atau sawo matang,
yang tingkat gelap-terangnya bervariasi antara putih hingga hitam. Martha
Tilaar, pakar kosmetika tradisional, membaginya dengan lebih spesifik:
horizon (kuning), starlight (putih), dan sunset (sawo matang).
Anggapan yang umum beredar di masyarakat Indonesia, semakin putih kulit
seseorang akan semakin cantik. Ini hanya masalah selera, karena orang-orang
di belahan bumi Barat biasanya malah menganggap kulit gelap lebih menarik dan
eksotis. Namun, adakalanya warna kulit berubah karena sebab-sebab yang tidak
‘wajar’. Jika ini yang terjadi, teknik bleaching atau pemakaian produk-produk
skin lightening bisa jadi jalan keluar.
Saat kulit berubah warna
Warna kulit seseorang dapat berubah sepanjang hidupnya. Contoh mudahnya,
kulit yang sering terpajan matahari akan berwarna lebih gelap karena sinar
matahari mengandung ultraviolet yang merangsang pembentukan dan penyebaran
melanin. Berubahnya warna kulit juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
misalnya genetis, hormonal, obat-obatan, makanan, penyakit, kosmetik, dan
lain-lain.
Bertambahnya jumlah melanin di dalam kulit yang disebut hiperpigmentasi
merupakan penyakit kelainan warna kulit yang cukup sering terjadi. Yang
banyak dijumpai di Indonesia adalah melasma, efelid, lentigen, dan
hiperpigmentasi pascaradang.
Melasma yang berupa bercak-bercak cokelat, biru kelabu, atau cokelat
kelabu sering menimpa wanita yang sudah melahirkan. Wajah, leher, lengan, dan
tangan adalah daerah yang paling sering mengalaminya. Penyebabnya
bermacam-macam; bisa karena kehamilan, pil antihamil, kosmetika, obat-obatan,
genetik, kurang gizi, gangguan fungsi kelenjar endokrin atau fungsi hati.
Efelid atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘freckles’ adalah
kelainan warna kulit akibat pajanan sinar matahari. Akibatnya, kulit akan
bebercak-bercak cokelat kecil. Kelainan ini umumnya menimpa orang berkulit
putih dan termasuk penyakit keturunan.
Lentigen juga bersifat genetis dan disebabkan peningkatan
jumlah melanosit. Terlihat seperti bercak kecil berwarna cokelat hingga
hitam, berbatas tegas, dan ditemui di kulit yang banyak terpajan matahari
hingga telapak kaki dan tangan.
Hiperpigmentasi pascaradang merupakan kelainan warna kulit
setelah terjadinya peradangan pada kulit. Semakin gelap warna kulit,
hiperpigmentasinya akan semakin gelap pula.
Jika harus bleaching
Apapun jenis kelainan kulit Anda, ada beberapa hal yang harus diingat sebelum
melakukan proses bleaching. Pada hiperpigmentasi jenis tertentu, bisa diatasi
dengan bedah kulit dengan cara bedah beku, listrik, kimia, dan laser.
Salah satu teknik bleaching yang cukup populer adalah Obagi, yaitu
serangkaian proses peeling kulit hiperpigmentasi dengan menggunakan TCA (asam
triklorasetik) serta dibantu terapi topikal dengan menggunakan Hidrokuinon
2-4% dan Tretinoin. TCA bisa mengiritasi dan menyebabkan hiperpigmentasi yang
lebih parah. Konsultasikan terlebih dahulu pada dokter kulit mengenai setiap
tindakan yang akan Anda lakukan terhadap kulit Anda.
Jika Anda memilih menggunakan produk-produk pemutih kulit, ada baiknya Anda
melakukan uji sensitivitas sebelumnya. Bisa saja Anda alergi atau sensitif
terhadap salah satu kandungannya. Karena efek samping bleaching agent yang
terlalu kuat, bleaching harus dihentikan segera setelah warna kulit yang
normal tercapai. Kalau tidak, bagian itu akan berwarna lebih terang dari
kulit Anda yang lainnya.
Sebelum melakukan bleaching, pastikan penyebab hiperpigmentasi Anda terlebih
dahulu. Misalnya, jika bercak-bercak pada kulit Anda ditimbulkan oleh ‘jejak’
jerawat, bukankah lebih baik jika Anda menyembuhkan jerawat untuk memutus
‘lingkaran setan’ hiperpigmentasi? Atau, jika menghitamnya warna ketiak Anda
disebabkan alergi pada deodoran, gantilah dengan merk yang lebih ‘ramah’
sebelum Anda merawatnya. Terakhir, bleaching butuh waktu—bukan proses yang
terwujud dalam semalam. Belajar menerima dan mencintai warna kulit sendiri
tetaplah cara yang paling bijak.
Dibalik Produk Pemutih
Dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran produk-produk pemutih kulit atau
skin lightening di pasaran bagai jamur di musim hujan. Inilah beberapa zat
aktif yang paling banyak digunakan produk-produk tersebut:
Hidrokuinon (Hydroquinon)
Merupakan bahan kimia yang paling umum digunakan dalam produk-produk pemutih
kulit dalam sediaan salep, krim, atau losion. Hidrokinon bekerja menghambat
kerja enzim tirosinase (ensim utama dalam pembentukan melanin), menghambat
pembentukan melanin di dalam melanosit, dan mencegah degradasi melanosom.
Jika dikombinasikan dengan asam glikolik atau bahan lainnya, hidrokuinon
dapat perpenetrasi kedalam kulit lebih mudah, dan karenanya lebih efektif.
Kadar hidrokuinon yang diizinkan dalam produk yang dijual bebas
(cosmeceutical over the counter) adalah 2 %, lebih dari itu (biasanya 4%)
harus menggunakan resep dokter. Efek sampingnya bisa menimbulkan iritasi
kulit ringan, kulit memerah, rasa panas dan gatal, serta mengubah warna kuku.
Karena merupakan bahan pemutih yang cukup kuat, hidrokinon 2-4% dapat merusak
sel melanosit yang mengakibatkan vitiligo.
Asam Azeleik (Azeleic Acid)
Banyak digunakan untuk pengobatan melasma dan hiperpigmentasi pascaradang.
Asam azeleik dalam kadar 20% memberi hasil yang sama dengan hidrokuinon 2%.
Efek samping yang mungkin terjadi adalah rasa gatal, iritasi ringan, rasa
terbakar, hingga pengelupasan kulit.
Turunan Vitamin A
Vitamin A adalah vitamin pertama yang digunakan secara topikal untuk
perawatan kulit. Kini, istilah Vitamin A mengacu pada retinol (alkohol
Vitamin A), retinal (aldehida Vitamin A), dan tretinoin (asam Vitamin A).
Dengan konsentrasi 0,05-0,1 %, Vitamin A–dan turunannya–merangsang
pembentukan kolagen, memperbarui dan mengelupas kulit mati hingga kulit
tampak lebih cerah. Efek sampingnya adalah iritasi ringan hingga berat.
Asam Kojik (Kojic Acid)
Selain berfungsi menon-aktifkan enzim tironase dan pengelupas kulit, asam
kojik juga memaksimalkan penetrasi pemutih. Sebagai bonus, berguna pula bagi
kulit berjerawat dan menua (aging). Kadar yang dipakai adalah 1-4%. Efek
sampingnya berupa iritasi dan dermatitis kontak (peradangan alergi kulit akut
akibat kontak dengan zat kimia atau benda-benda lain).
Vitamin C (Asam Askorbat)
Membantu menghambat produksi melanin. Vitamin C juga dibutuhkan dalam sintesa
kolagen untuk menjaga elastisitas kulit. Lebih efektif jika kandungannya
lebih dari 3 %.
Bengkuang, akar manis (Licorice)
Dalam menghambat aktivitas tirosinase—salah satu kegunaan utama licorice, ia
lebih kuat dibanding asam kojik dan asam askorbat. Licorice juga banyak
digunakan dalam produk tabir surya karena bisa menyerap UVA dan UVB. Bisa
menyebabkan alergi atau iritasi.
Niasinamida
Merupakan provitamin B3 yang mempengaruhi kerja pigmentasi dengan cara
menghambat penyebaran melanin oleh melanosit ke sel-sel sekitarnya. Juga
berefek anti radang dan antioksidan sehingga mengurangi efek buruk sinar
ultraviolet. Dalam konsentrasi 2-5% biasanya dipakai dengan tambahan tabir
surya dan pelembap.
Tabir Surya (Sunblock)
Bleaching tak ada gunanya tanpa tabir surya. Pajanan sinar UV merangsang
pembentukan dan penyebaran melanin. Karena itu, produk-produk pemutih kulit
tidak hanya mengandung zat aktif yang menghambat pembentukan melanin tetapi
juga tabir surya yang mengurangi dampak sinar UV di kulit. Umumnya, produk
pemutih mengkombinasikan tabir surya fisik dan kimiawi yang memiliki kadar
SPF minimal 15.
Apa Kata YPKKI
Dr. Marius Widjajarta, S.E., ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan
Indonesia (YPKKI) menyesalkan banyaknya produk pemutih yang masih menyesatkan
konsumen. Dari hasil survei uji label 27 produk pemutih kulit yang beredar di
pasaran, YPKKI menemukan sejumlah pelanggaran. Di antaranya, tidak mencantumkan
No. Registrasi Depkes/Badan POM (66,7%), tidak mencantumkan komponen pokok
(7,4%), tidak mencantumkan tata cara penggunaan (14,8%), tidak mencantumkan
tanda peringatan atau efek samping (48,1%), dan tidak mencantumkan batas
waktu kedaluwarsa (74%).
“Banyak pula produk pemutih yang menyesatkan konsumen melalui iklannya.
Misalnya, ada sabun yang mengklaim dapat memutihkan kulit dalam waktu 6
minggu. Secara logika saja ini sudah salah, karena warna kulit ‘kan
ditentukan oleh melanin. Tak mungkin dapat dipengaruhi oleh sabun yang hanya
terpajan di bagian luar kulit selama beberapa menit. Jadi, saya lihat hak
konsumen untuk mendapatkan informasi yang benar dan mendapat
keamanan/keselamatan masih diabaikan,” sesal Marius.
YPPKI juga menerima keluhan dari beberapa konsumen yang kulitnya malah jadi
rusak setelah menggunakan produk pemutih itu. Maka, Marius menghimbau
masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih produk-produk yang
berkenaan langsung dengan kesehatan mereka.
Merkuri, Riwayatmu Kini
Merkuri pernah menjadi ‘bahan wajib’ sebagai kandungan kosmetika pemutih
kulit. Biasanya digunakan dalam konsentrasi 5-10%. Namun, efek samping
merkuri ternyata tak sebanding dengan khasiatnya. Pemakaian merkuri dalam
jangka waktu tertentu bisa merusak organ hati dan ginjal hingga pemakaiannya
kini dilarang. Tapi jangan keburu berlega hati, Menurut dr. Marius
Widjajarta, S.E., masih banyak produk pemutih kulit yang diam-diam memasukkan
merkuri sebagai bahan campurannya, meski tidak tercantum pada label produk
tersebut.
|